Lembaga Mitra Tani Organik
 
Senin, 21 Juli 2008
KOMPOS


PEMBUATAN KOMPOS


Penyiapan Starter Kompos

Sistem pencernaan ruminansia adalah rangkaian proses fisik dan kimia bahan makanan selama berada di dalam alat pencernaan. Proses pencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya. Hal inilah yang mendasari alasan penggunaan isi pencernaan ruminansia sebagai starter kompos. Sebagai bibit kompos, starter kompos mengandung 13 mikroba yang berperan dalam penguraian atau dekomposisi limbah organik hingga berubah menjadi kompos yang baik. Mikroba – mikroba tersebut mempunyai peran – peran tersendiri hingga mampu memperbaiki dan mempercepat proses pengomposan yang kita lakukan. Mikroba-mikroba tersebut antara lain : mikroba lignolitik, mikroba selulolitik, mikroba proteolitik, mikroba lipolitik, mikroba amilolitik dan mikroba fiksasi nitrogen non simbiotik.


Perut ternak ruminansia dibagi menjadi 4 bagian yaitu retikulum (perut jala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu) dan abomasum (perut sejati). Dalam studi fisiologi ternak ruminansia, rumen dan retikulum sering dipandang sebagai organ tunggal dengan sebutan retikulorumen. Omasum disebut perut sebagai perut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar. Fungsi omasum belum terungkap secara jelas tetapi pada organ tersebut terjadi penyerapan air, amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ ini dilaporkan juga menghasilkan amonia dan mungkin asam lemak terbang. Termasuk organ pencernaan bagian belakang lambung adalah sekum, kolon dan rektum. Pada pencernaan bagian belakang tersebut juga terjadi aktivitas fermentasi. Namun belum banyak informasi yang terungkap tentang peranan fermentasi pada organ tersebut, yang terletak setelah organ penyerapan utama. Proses pencernaan pada ternak ruminansia dapat terjadi secara mekanis di mulut, fermentatif oleh mikroba rumen dan secara hidrolis oleh enzim-enzim pencernaan.

Pada sistem pencernaan ternak ruminansia terdapat suatu proses yang disebut memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakan ditahanuntuk semantara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakan yang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi), untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan kembali (proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim mikroba rumen. Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam rangkaian proses tersebut bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi dan penyerapan nutrien. Selain itu kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untuk pergerakan digesta meninggalkan retikulorumen melalui retikulo-omasal orifice.

Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga group utama yaitu bakteri, protozoa, dan fungi. Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangat bermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni pada jaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding sel tanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen.

Bakteri rumen dapat dikalsifikasikan berdasarkan substrat utama yang digunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya. Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudah dilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri rumen : (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens, Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati (Bakteroides ammylophillus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica), (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).


Proses Pengomposan

  • Sebelum dilakukan pembuatan kompos tempatnya terlebih dahulu harus disiapkan
  • Diusahakan tempat pembuatan pupuk organik terlindung dari terik matahari langsung atau hujan (tempat yang beratap). Saat pembuatan kompos diusahakan agar tidak tergenang air ataupun terkena air hujan karena akan menjdi busuk
  • Kotoran sapi (faeses dan urine) yang bercampur dengan sisa pakan, dikumpulkan pada suatu tempat, ditiriskan atau dikeringanginkan selama satu minggu agar tidak terlalu basah.
  • Kotoran yang sudah ditiriskan tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi pembuatan dan diberi kalsit/kapur dan dekomposer. Untuk menbuat 1 ton bahan pembuatan kompos (kotoran ternak) membutuhkan 20 kg kapur, 50 kg ampas gergaji. 100 kg abu sekam dan 2,5 kg dekomposer dan seluruh bahan dicampur lalu diaduk merata.
  • Setelah satu minggu diperam, campuran tadi diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu bisa diatur dengan memasukkan telapak tangan ke dalam tumpukan bahan, bila terasa hangat berarti terjadi proses pemeraman.
  • Minggu kedua dilakukan pembalikkan lagi. Demikian seterusnya sampai pada minggu keempat. Pada saat ini pupuk telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau.
  • Pemeraman dilakukan selama 1 bulan. Kelembaban dan temperatur harus tetap dijaga agar sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk hidup dan berkembang.
  • Kemudian pupuk diayak atau disaring untuk mendapatkan bentuk seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan (misalnya batu, potongan kayu, rafia) sehingga pupuk yang dihasilkan benar-benar berkualitas.
  • Selanjutnya pupuk organik siap diaplikasikan ke lahan sebagai pupuk dasar atau dapat disimpan pada tempat yang terlindung dari terik matahri an hujan.


KOMPOS YANG DIPERKAYA

Kompos yang telah matang sebenarnya sudah cukup baik untuk diaplikasikan ke tanaman. Permasalahan yang sering muncul adalah kebutuhan kompos yang cukup banyak untuk mencukupi seluruh kebutuhan hara tanaman. Dibandingkan dengan pupuk kimia, kebutuhan kompos dapat 10 – 20 kali lipat lebih banyak daripada pupuk kimia. Salah satu solusi yang akhir-akhir ini banyak berkembang adalah memperkaya kompos. Bahan-bahan yang dipergunakan memperkaya kompos antara lain : pupuk kimia konvensional, bahan-bahan organik yang memiliki kandungan hara tinggi dan mikroba-mikroba bermanfaat. Sebagai contoh : untuk meningkatkan kandungan N dapat menggunakan biomassa azolla, untuk meningkatkan kandungan P dipergunakan fosfat alam dan untuk meningkatkan kandungan K dipergunakan abu sisa pembakaran bahan organik.

Mikroba-mikroba yang terdapat di dalam kompos diakui memiliki manfaat yang sangat baik bagi tanah maupun tanaman. Namun, mikroba yang tersedia dalam jumlah yang relatif sedikit dan tidak seragam. Mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanaman dapat ditambahkan dari luar untuk memperkaya dan meningkatkan kualitas kompos. Mikroba yang sering dimanfaatkan adalah :

  • Mikroba penambat nitrogen : Azotobacter sp, Azosprilium sp ,Rhizobium sp
  • Mikroba pelarut P dan K : Aspergillus sp ,Aeromonas sp
  • Mikroba agensi hayati : Metharhizium sp ,Trichoderma sp
  • Mikroba perangsang pertumbuahan tanaman : Trichoderma sp, Pseudomonas sp ,Azosprilium sp


Label: , , , , ,

posted by T. Azizul Hakim dr @ 23.49  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
 
Lembaga Mitra Tani organik Bertujuan membentuk dan menciptakan petani yang mandiri dan berwawasan lingkungan
About Me

Name: T. Azizul Hakim dr
Home: medan, SUMATRA UTARA, Indonesia
About Me: MARI MEMBERI YANG TERBAIK BAGI BANGSA INDONESIA DENGAN IKHLAS
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Mari kawan kawan, silakan beri komentar anda untuk memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara

Lembaga Mitra Tani Organik

Jl Serimpi II no 12 Medan (20136)

Tel/Fax : 061 8360560

lmto2007@hotmail.com

Gambar

 

 

 

                  

 

 

 

 

Powered by
 

 

 

Blogger Templates

BLOGGER